Al-Qur'an menggambarkan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Allah dari bahan dasar tanah liat. Beberapa ayat menegaskan bahwa Allah membentuk Adam dari tanah/lempung (tanah liat), kemudian meniupkan ruh (nyawa) ciptaan-Nya ke dalamnya (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Misalnya, Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia dari tanah (liat). Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Dalam narasi Qur'an, proses penciptaan Adam melibatkan dialog kosmik: Allah memberitahu para malaikat tentang rencana penciptaan khalifah (pemimpin) di bumi (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Para malaikat sempat mempertanyakan potensi manusia yang akan “berbuat kerusakan dan menumpahkan darah”, namun Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui hikmah yang tidak diketahui malaikat (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Setelah diciptakan, Adam diajari nama-nama (pengetahuan) seluruh benda oleh Allah, menunjukkkan kemuliaannya di atas malaikat dalam hal ilmu (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Allah lalu memerintahkan para malaikat bersujud menghormati Adam; semua menurut kecuali Iblis (dari golongan jin) yang menyombongkan diri karena merasa lebih mulia (diciptakan dari api) sementara Adam dari tanah (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Akibat pembangkangannya, Iblis terusir. Kemudian Adam ditempatkan di jannah (surga) dan diberi pasangan (istrinya) yang disebut sebagai “zauj” (pasangan) dalam Al-Qur'an. Keduanya diperintahkan tinggal di surga dan dilarang mendekati satu pohon terlarang. Iblis berhasil menggoda mereka untuk melanggar larangan itu, sehingga mereka diturunkan ke bumi. Adam memohon ampun dan Allah menerima taubatnya, menjadikannya nabi pertama yang memperoleh petunjuk Allah (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway) (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway).
Tradisi Islam (di luar Al-Qur'an) memberikan beberapa detail tambahan tentang penciptaan Adam. Disebutkan dalam hadits bahwa Allah mengutus malaikat untuk mengumpulkan berbagai jenis tanah dari bumi, lalu tanah itu dicampur air menjadi tanah liat yang lengket sebelum dibentuk (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway) (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Adam dikatakan dibiarkan dalam bentuk tanah liat tersebut dalam jangka waktu tertentu hingga mengering seperti tembikar (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Setelah itu barulah ruh ditiupkan, membuat Adam hidup (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway). Nama "Adam" sendiri dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan kata adim al-ardh (permukaan bumi) atau warna udmah (cokelat/gelap), merujuk pada asalnya dari tanah. Pasangannya dalam tradisi Islam dikenal sebagai Hawa, meski Al-Qur'an tidak menyebut nama tersebut (hanya istilah isteri atau pasangan Adam). Beberapa riwayat Islam (hadis) menyatakan Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam – sering diartikan dari tulang rusuk Adam – mirip dengan narasi Alkitab, meskipun penafsiran ayat “menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan darinya menciptakan pasangannya” masih diperdebatkan oleh ulama (). Secara umum, menurut Al-Qur'an dan kepercayaan Islam, Adam dan Hawa adalah leluhur seluruh umat manusia, dan kemanusiaan merupakan keturunan mereka berdua.

(File:The Creation of Adam.jpg - Wikimedia Commons) Lukisan “The Creation of Adam” karya Michelangelo (1511) yang terkenal, menggambarkan Tuhan meniupkan kehidupan kepada Adam. Karya ini didasarkan pada narasi Kitab Kejadian tentang penciptaan manusia pertama.
Dalam Alkitab (Perjanjian Lama), kisah penciptaan Adam terdapat pada Kitab Kejadian (Genesis) pasal 1–3. Terdapat dua rangkaian narasi penciptaan yang saling melengkapi: Kejadian 1 menjelaskan penciptaan manusia secara umum sebagai puncak penciptaan hari keenam, sedangkan Kejadian 2 memberikan rincian khusus penciptaan Adam dan Hawa. Menurut Kejadian 1:27, manusia (pria dan wanita) diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” – sebuah frasa teologis penting yang menegaskan kedudukan istimewa manusia sebagai citra Tuhan (Genesis 1:27 NIV - So God created mankind in his own - Bible Gateway). Pada Kejadian 2:7 dijelaskan prosesnya: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Genesis 2:7 - Bible Gateway). Ayat ini paralel dengan konsep Qur'an tentang tanah dan nafas hidup, menunjukkan kesamaan tema penciptaan dari tanah dan roh/nafas kehidupan dari Tuhan. Adam (ādām in Hebrew) dalam bahasa Ibrani terkait dengan kata adamah yang berarti tanah/lahan, menegaskan asalnya dari tanah (Creation of life from clay - Wikipedia).
Setelah Adam hidup, Tuhan menempatkannya di Taman Eden – taman firdaus di bumi – untuk mengolah dan menjaga taman tersebut. Tuhan kemudian berfirman bahwa tidak baik Adam seorang diri, sehingga Allah membuat Adam tidur lelap dan menciptakan Hawa (Eve) sebagai pendamping. Kejadian 2:21-22 menjelaskan Allah mengambil salah satu tulang rusuk Adam dan membentuk seorang wanita darinya, lalu membawanya kepada Adam (Genesis 2:21-22 NKJV - And the Lord God caused a deep sleep to - Bible Gateway). Adam menyambut wanita itu sebagai "tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku", lalu menamainya Perempuan (Isha) karena diambil dari Pria (Ish). Setelah kejatuhan (memakan buah terlarang), Adam menamai istrinya Hawa (Eve) yang bermakna “hidup” atau “ibu semua yang hidup” (Kejadian 3:20), karena dialah ibu dari umat manusia selanjutnya.
Menurut narasi Alkitab, di Taman Eden Adam dan Hawa diberi satu larangan: tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat. Namun, ular (yang diidentifikasi kemudian sebagai manifestasi iblis) menggoda Hawa untuk memakan buah itu dan memberikannya kepada Adam. Pelanggaran ini menyebabkan “kejatuhan manusia ke dalam dosa” menurut teologi Kristen: Tuhan menghukum mereka dengan mengusir keduanya dari Eden ke bumi yang penuh penderitaan. Konsekuensi teologis dalam tradisi Kristen, doktrin dosa asal, berkembang dari kisah ini – yaitu bahwa dosa Adam menurunkan kodrat dosa kepada seluruh keturunannya. (Perlu dicatat, dalam Islam konsep dosa asal tidak diadopsi; Islam memandang setiap manusia lahir suci dan menanggung dosanya sendiri, dan Adam sendiri telah diampuni (The Story of Adam - Ibn Kathir - Various Scholars - Islamway)). Setelah terusir, Adam dan Hawa memulai hidup di bumi, memiliki anak-anak (Kain, Habel, Syits, dan lainnya) dari mana manusia berkembang biak memenuhi bumi. Tradisi Yahudi-Kristen menganggap semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, sehingga mereka adalah nenek moyang universal.